Wednesday, June 7, 2017

Mengapa Dancer Harus Dibayar Mahal?

Dancer kok bayarannya mahal sih? Padahal performance-nya kan cuma sebentar” – Banyak orang di luar sana.

Hari ini dancer sudah menjadi sebuah profesi yang cukup menjanjikan. Banyak penari yang memutuskan untuk total di dunia dansa dansi dan menggantungkan hidup darinya. Hal demikian terjadi tentu saja terjadi karena menari bisa mendatangkan penghasilan yang tak bisa dibilang kecil.

Para penari, terutama di kota-kota besar, bisa mendapatkan rupiah yang tak sedikit dari tiap penampilannya: ratusan ribu hingga jutaan. Namun hal itu juga menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang awam (yang bukan penari) di luar sana: kenapa dancer bisa mendapat bayaran sebesar itu?

Inilah beberapa alasannya:

1. Proses yang panjang
Perlu dipahami lebih dulu untuk menjadi seorang penari profesional membutuhkan waktu yang tidak singkat dalam berproses. Untuk mencapai level tersebut para penari itu harus melewati waktu bertahun-tahun guna mempelajari bukan hanya tekhnik menari namun juga pola pikir dan habit yang akan membawa mereka ke sebuah bentuk profesionalitas yang mutlak harus dimiliki oleh penari profesional.

Semakin tinggi jam terbang, dengan proses yang benar tentunya, maka akan makin tinggi pula kualitas seorang penari. Proses yang panjang inilah yang harus dihargai sebagaimana mestinya.

2. Waktu latihan
Salah satu yang paling banyak menimbulkan pertanyaan perihal bayaran dancer yang menurut sebagian orang relatif mahal adalah durasi penampilan yang terbilang singkat, bila dibandingkan dengan music performance misalnya.

Sebuah dance group biasanya tampil dengan durasi 4 hingga 6 menit,  yang mungkin untuk sebagian orang adalah durasi yang sangat singkat. Jika anda termasuk dalam golongan yang berpikir demikian, ada satu hal yang perlu anda ketahui: koreografi sepanjang 4 hingga 6 menit itu tidak tercipta melalui proses simsalabim-jadi apa-prok prok prok seperti acara sulap itu.

Untuk menghasilkan pertunjukkan dengan durasi 4 hingga 6 menit itu diperlukan  proses kreatif, yang kerap kali cukup memusingkan dan menguras energi, untuk membuat koreografi yang akan dibawakan. Dan bila idenya sudah ditentukan, para penari harus melakukan serangkaian proses latihan untuk mewujudkan ide tersebut. Latihan yang tidak ringan tentunya. Untuk menyiapkan performance 4 hingga 6 menit itu diperlukan waktu latihan berjam-jam tiap harinya dalam beberapa hari. Tak jarang bahkan para penari harus begadang demi hasil yang maksimal.

Jika anda penasaran cobalah sesekali anda mengikuti proses latihan para penari itu, niscaya anda akan mengerti mengapa mereka dibayar dengan cukup tinggi.

3. Musik, kostum dan tata rias
Bicara pertunjukkan tari bukan hanya bicara soal tarian semata, namun juga berarti bicara soal musik, kostum dan perlengkapan lain yang dibutuhkan.

Menari tentu saja membutuhkan musik. Diperlukan kemampuan music producing, atau paling tidak music mixing, yang mumpuni untuk dapat menghasilkan musik yang maksimal. Dan tentu kita semua paham sekrusial apa peranan musik dalam sebuah dance performance.

Kostum dan tata rias pun tak kalah pentingnya. Seperti yang kita ketahui tari adalah seni visual dan demi memuaskan kebutuhan netra para hadirin tentu dibutuhkan kostum dan tata rias yang sesuai. Pun kita semua tahu itu membutuhkan biaya.


(Arthur Garincha)


Monday, August 1, 2016

Membandingkan Ganteng Ganteng Swag dengan Fuck tha Police? Anda Pasti Sedang Bercanda

Beberapa waktu lalu sebuah lagu berjudul Ganteng Ganteng Swag (GGS) menjadi buah bibir seluruh netizen di NKRI. Lagu milik Young Lex dan kawan-kawan ini menjadi kontroversi dan menjadi pembicaraan hampir di semua lini masyarakat dengan dua sebab utama: pertama, lagu GGS memuat lirik yang bertaburan dengan kata kasar dan memberi pengaruh buruk kepada anak-anak. Mungkin Young Lex dan rekan-rekan tidak sadar bahwa penikmat karya mereka kebanyakan adalah anak-anak usia SD dan SMP. Ayolah, orang dewasa macam apa yang doyan mendengar lagu rap dengan lirik “Andovi da lopez gak pernah mandi. Bajunya juga gak diganti-ganti” di dalamnya.

Penyebab kedua, yang menurut saya penganutnya lebih banyak namun malu-malu untuk mengaku, adalah karena lagu ini, dan para penyanyinya, sangat katro namun ngetop bukan main. Saya tentu saja berada di barisan yang ini.

Bersamaan dengan viralnya kalimat “Youtube lebih dari TV. Boom!” makin banyak pula yang berkomentar tentang lagu GGS. Tak terhitung banyaknya orang yang mencerca Young Lex dan Shittyindonesian24, maaf, maksud saya Skinnyindonesian24 sebagai perusak moral kaum muda bangsa. Namun jangan salah, ternyata tak sedikit pula orang yang tergabung dalam Young Lex Militia dan Front Pembela Skinny yang mati-matian membela enam rapper tersebut. Dari sekian banyak barisan pembela salah satunya adalah Pandji Pragiwaksono, salah satu idola saya.

Dalam tulisan di blog pribadinya Pandji terang-terangan membela para pelantun tembang GGS beserta segala opini dan alasannnya. Mulai dari persoalan tuduhan memberi contoh buruk pada anak-anak hingga membandingkan lagu GGS dengan lagu Fuck tha Police milik NWA. Saya tidak akan berkomentar mengenai  efek buruk lagu GGS terhadap pendengarnya yang masih anak-anak, tapi menyamakan Ganteng Ganteng Swag dengan Fuck tha Police? Anda pasti sedang bercanda.

Pandji menganggap lagu GGS sebagai apa yang disebut oleh Ice Cube sebagai “reflection of our society”, seperti halnya lagu Fuck tha Police yang melegenda itu menggambarkan keadaan lingkungan sosial di Compton pada saat lagu itu dirilis di akhir dekade 80. Pertanyaannya: keadaan mana yang direfleksikan oleh lagu GGS? Apa yang diharapkan tergambarkan dari lirik “Fuck pencitraan. Nakal tapi tampan” ketika semua tahu di Instagram si penyanyinya sibuk membentuk citra diri? Apalagi bagi sebagian orang dia juga tidak tampan.

Bagi saya satu-satunya potongan lirik yang relevan untuk menggambarkan cuilan keadaan di sekitar hanya bagian “Youtube lebih dari TV” dan sebaris lirik tentu saja tidak cukup untuk merepresentasikan keseluruhan sebuah lagu. Satu-satunya persamaan dari dua lagu tersebut untuk saya hanya sama-sama banyak dihujat dan dihujani protes. Itu saja.

Saya belum bisa memahami pemikiran Pandji yang membandingkan GGS dengan Fuck tha Police, namun jelas menganggap lirik:

Ahmad Kemal Pahlevi (yoi) gua Ahmad Kemal Pahlevi
Cita cita jadi haji (boom)
Cowok ganteng banyak sedikit prestasi
Mending gua mandiri dari stand up comedy

sebanding dengan:

Fuck the police coming straight from the underground
A young nigga got it bad cause I’m brown
And not the other color so police think
They have the authority to kill minority

jelas tidak dapat diterima.

Sekilas saya terdengar seperti hater-nya Pandji Pragiwaksono, tapi, demi Eric Cantona, saya adalah salah satu pengagumnya. Saya menikmati semua karyanya kecuali ketika beliau sedang memegang mic untuk nge-rap. Mungkin Pandji sedang berlelucon ketika menyamakan lagu GGS dengan Fuck tha Police, karena seperti semua bit-nya dalam Mesakke Bangsaku, yang satu ini juga membuat saya tertawa terbahak-bahak.


Kolesterol, Gengsi dan Kepala yang Pening

“Hidup itu gak susah sebetulnya, gengsinya yang bikin susah”, seloroh seorang kawan dalam sebuah sesi berbincang mengomentari gaya hidup mayoritas masyarakat Indonesia hari ini. Tidak semua memang, namun reratanya seperti itu. Gengsi, saat ini, adalah kebutuhan tersier yang (dipaksa) naik kasta menjadi kebutuhan primer.

Pun gengsi tak memandang umur, gender, kemampuan finansial dan status sosial. Para orang tua dari kelas menengah berlomba membuat pesta pernikahan  semewah mungkin – tak jarang hingga berhutang - untuk anak gadisnya agar status sosialnya terelevasi ke tingkat tertentu yang diharapkan atau sekedar hanya agar tidak “kalah” dari sanak famili atau rekan sejawat yang juga menikahkan anaknya dalam waktu berdekatan. Di saat yang sama seorang mahasiswa rantau asyik nongkrong di warung kopi Amerika nan fancy di tengah hutan beton metropolis demi satu atau dua postingan di Instagram sementara orang tuanya yang buruh tani membanting tulang di desa untuk mengirim uang bulanan tanpa tahu bahwa anaknya alih-alih menjadi mahasiswa teladan di kota justru banting setir menjadi atlet dari cabang panjat sosial.

Lucunya, semua itu dilakukan sering kali tanpa tujuan yang membahagiakan. Agar dianggap “wah” dan membuktikan kepada orang lain bahwa kita pun bisa melakukan apa yang mereka lakukan adalah salah dua alasannya. Ingin membuat orang lain, biasanya justru adalah orang yang tidak disukai, iri adalah alasan lainnya yang sering dijadikan sebab. “We buy things we don’t need with money we don’t have to impress people we don’t like”, begitu kata Chuck Palahniuk dalam Fight Club. Iya, gila memang.

Gengsi sangat mirip dengan kolesterol. Ya, senyawa yang dianggap brengsek dan ditakuti sebagian umat manusia itu.

Meniadakan kolesterol, seperti halnya pula gengsi, dalam hidup kita adalah, meminjam kalimat Asmuni, hil yang mustahal. Itu adalah hal yang natural. Rumput hijau, gula manis dan manusia punya kolesterol maupun gengsi. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrolnya agar tetap dalam batas yang wajar dan tidak merugikan. Hal ini sangat penting untuk diingat demi kebaikan anda sendiri, karena kolesterol dan gengsi pada dasarnya mempunyai satu kesamaan: kalau ketinggian bisa bikin pusing.

Kandungan kolesterol yang tinggi didapat dari kebiasaan mengonsumsi hal-hal yang sebetulnya tidak kita butuhkan demi pemenuhan keinginan secara berlebihan. Demikian pula adanya gengsi. Semakin kita menuruti hasrat untuk memenuhi keinginan-keinginan kurang penting itu maka tanpa kita sadari kadar gengsi pun akan semakin tinggi. Jika terlanjur tinggi akan sedikit sulit memang untuk menekannya ke bawah. Maka lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?

Bolehlah sekali-sekali makan makanan berlemak sepuasnya atau membeli sneakers seharga setengah gaji sebulan. Kali terakhir diperiksa dua hal itu tidak masuk dalam kategori tindak kriminal jadi sah-sah aja untuk dilakukan. Silahkan. Yang tidak disarankan adalah untuk melakukannya lebih sering dari kemampuan anda. Jika anda nekat maka bersiapah untuk dilanda pening yang amat sangat, yang entah disebabkan oleh pembuluh darah di sekitar kepala yang tersumbat lemak atau jumlah pengeluaran bulanan yang lebih besar dari penghasilan.

Maka dari itu amat penting untuk kita semua, saya dan anda, untuk melindungi diri dari monster tak berwujud namun amat berbahaya bernama gengsi. Harus kita pahami dan sepakati bahwa gengsi adalah hal tak terpisahkan dalam diri seorang manusia, kecuali nama anda adalah Tong Sam Cong. Namun sebagai manusia yang diberkahi akal budi dan pikiran semestinya kita mampu mengendalikan gengsi dalam diri kita.

Cara yang paling sederhana adalah dengan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Rumput tetangga mungkin memang terlihat lebih hijau tapi siapa tahu di tanah kita yang panas dan berpasir justru terkandung minyak bumi jika digali lebih dalam. Akan sayang sekali bila kita menghabiskan waktu yang kita miliki untuk berusaha menumbukan rumput untuk menyaingi tetangga ketimbang menggali minyak bumi itu.

Lagipula apakah anda tahu salah satu akibat yang mengancam dari kolesterol dan gengsi yang tingginya sudah melewati batas? Betul sekali: stroke.





Friday, July 1, 2016

Pekerjaan Paling Asyik di Dunia

"Choose a job you love and you will never have to work a day in your life" - Confucius

Pertengahan Januari 2016

Saat itu saya sedang dalam perjalanan menyetir pulang ketika ponsel saya berdering. Sekitar jam 10 malam. Belum terlalu larut memang, tapi saya sedang malas menghabiskan malam di luar rumah. Nama Hamdi Fabas, seorang big brother from another mother, terpampang pada layar. Panggilan yang menjadikan tahun 2016 menjadi salah satu tahun yang paling membahagiakan bagi saya.

Singkatnya saya ditawari pekerjaan yang tak pernah saya sangka-sangka sebelumnya. Bukan, bukan sebagai anggota DPR, walaupun itu boleh juga. Saya disodori dengan tawaran yang tak mungkin saya tolak: bekerja sebagai penulis untuk menulis semua yang berhubungan dengan dance di sebuah website gaya hidup. Tawaran yang terdengar seperti ajakan bercinta oleh Emma Stone di sebuah malam. Hil yang mustahal untuk saya tolak.

Akhirnya tulisan saya akan terpampang di media beneran, bukan hanya di kertas-kertas binder sebagai hasil membunuh bosan di tengah perkuliahan atau di blog minim klik ini. Akhirnya saya bisa menggunakan "penulis" sebagai jawaban jika ada orang yang bertanya perihal pekerjaan yang saya lakukan. Ditambah lagi saya diminta menulis tentang hal yang saya sukai selama lebih dari satu dekade. Brengsek betul kan kabar baiknya.


1 Juli 2016

Saat ini saya memasuki bulan keenam bekerja sebagai penulis di website qubicle.id untuk qube Dancetraction. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah bersyukur atas pekerjaan yang sejauh ini sangat menyenangkan. Saya bisa bekerja dari rumah, tanpa mandi pun tak masalah bahkan saya bisa saja bekerja sambil menghisap rumput Jamaika seandainya saya ingin - dan siap diusir dari rumah jika ketahuan oleh ibu saya.

Setelah kurang lebih setengah tahun menulis hal yang paling menyenangkan, selain bayarannya tentu saja, adalah pekerjaan ini selalu menuntut saya untuk belajar lagi. Mencari informasi dan bertanya sana sini untuk dijadikan bahan tulisan. Mempelajari semua tentang skena dansa dansi secara lebih mendetail; sejarah, perkembangan dan hal-hal menarik dari semua genre. Saya seperti kembali ke masa awal saya menari, dimana saya sangat banyak mencari tahu tentang tarian yang saya lakukan. Bertanya kepada semua orang-orang yang saya temui tentang dance, mulai dari yang technical hingga perihal filosofis dan historis.

Hal menyenangkan lainnya adalah kesempatan yang saya dapat untuk bertemu dan berkenalan dengan orang-orang hebat dari skena dansa-dansi; mulai dari penari lokal yang namanya sudah saya dengar sejak lama namun belum sempat berkenalan hingga penari kelas dunia yang saya idolakan sejak lama. Norak? Biar saja. Ini juga serupa dengan saya yang sepuluh tahun lalu, ketika saya sedang giat-giatnya mencari teman di berbagai kota di Indonesia, dengan cara mendatangi mereka ke kotanya tentu saja, bukan dengan mengirimkan friend request di Facebook.


Well, lewat tulisan ini saya hanya ingin mewujudkan rasa syukur terhadap pekerjaan menyenangkan ini dalam bentuk aksara. Juga untuk menghaturkan terima kasih sebesarnya untuk kawan baik sekaligus idola saya Hamdi Fabas dan rekan kerja sekaligus kakak saya di Tim Hore Dancetraction Christi Vany untuk kepercayaannya selama ini. Juga semua yang membantu saya dalam proses menulis. Yang tak kalah penting juga semua orang yang sudah membaca tulisan-tulisan saya, karena tanpa kalian besar kemungkinan kontrak saya tidak diperpanjang lagi.

Salam.




Sunday, April 24, 2016

Interview with Kreate

Beberapa saat lalu saya menulis artikel berjudul Interview dengan Sang Raja Bboy untuk Dancetraction di Qubicle.id yang berisi obrolan dengan Febian Sumaputra Hidranto a.k.a Kreate the Great.



Berikut obrolan lengkap saya dengan Febian (karena tidak semua bisa anda temukan dalam tulisan saya di tautan di atas):


1. Tahun berapa lo mulai breakin dan gimana ceritanya pertama kali tertarik dengan breakin?

Dari jaman SD kelas 1-2 udah ngasal-ngasal nge-bboy, ngelakuin helicopters atau yg bisa disebut front sweep berulang-ulang karena liat sepupu gue yang lima tahun lebih tua nge-bboy sama temen-temennya pas di Bandung. Tapi untuk bener-bener belajar dan ngeliat lagi pas di tahun 97 di Virginia, Amerika.

Group bboys yang gue lihat pertama namanya "Lions of Zion" dan mereka pun isinya orang-orang dari beragam ras. Ada yang orang Vietnam, ada yang kulit hitam, ada yang latin dan ada juga yang bule. Dari diversity itu gue terkagum, apa lagi pas ngeliat mereka nge-break di tengah-tengah mall. Tertarik sama breaking gak tau kenapa, karena keliatan keren ngeliat orang-orang itu bisa goyangin badannya kaya gitu hehe...


2. Dari mana lo dapetin nama Kreate?

Dari crew mate di crew pertama gue yang dulu namanya "Kurrupt Squad". Awalnya dikasih namanya "Kid Kreate" karena gue satu-satunya yang selalu ngulik gaya sendiri dan ciptain gaya sendiri. Tapi setelah beberapa tahun gue ditarik sama bboy paling jago di Virginia waktu itu namanya Xeno, yang juga anggota dari crew "Flipside Kings". Dia bilang gak usah pake "Kid"-nya dan jadiin "Kreate" aja.

3. Siapa bboy yang jadi inspirasi lo?

 Kalo berurutan sih yang pasti temen-temen SMA gue dari crew pertama gue, terus crew kedua gue di Virginia yang namanya "Arrive To Defy" yang terdiri dari Crisis, Noem, Xeno, Venus, Strife, Wigout, Venus dan Kraft. Terus old school crew dari Virginia "Lions of Zion", yang original-nya yah, bukan yang generasi barunya mereka yang sekarang hehehe... Itu ada Ghost, Scrambles, Noob Saibot dan Golden Child. Sisanya yang pasti extended families gue Lab Ratz Crew, $7 & Fresh Sox. Di luar itu gue suka sama Rock Steady Crew, New York City Breakers, Battle Squad, Boogie Brats (original squad), Flipside Kings.

4. Selama di Amerika apa pengalaman paling berkesan di dunia breakin?

Sempet nyamperin Kmel sama Megas (Boogie Brats) ke New York bareng guru-guru gue; Xeno, Venus, Louiville (Street Masters), Stiff (Street Masters). Saat itu gue baru lihat Kmel di BOTY 98 terus udah seneng banget bakal ketemu dia, eh gak tahunya ada temennya Kmel yang underground king namanya Megas. Megas ini sih yang style-nya paling gue kagumin sampai sekarang. Selain itu pernah battle sama Ivan juga, salah satu inspirasi gue. Ke Miami untuk Who Can Roast The Most 2, 3 & 4. Miami bener-bener buka mata dan pikiran gue tentang bboying.

5. Ada cerita yang akhirnya jadi semacam urban legend mengenai battle antara lo vs Jakarta Breakin waktu lo baru pulang ke Indonesia. Bisa diceritain sedikit?

Hahahaha....Yang gue inget sih pertama kali gue balik gue langsung nanya orang-orang siapa yang paling jago dan crew apa. Dan semua jawabnya Galih dan The Jakarta Breakin. Jadi sebagai bboy yang baru datang ke teritory orang kita harus take over dan kenalan ke mereka dengan cara battle, bukan dengan nyapa mereka lewat email atau ngajak ketemu di tempat latian kalo gue dulu caranya hahaha... Cara kenalan gue sama yang jago-jago di teritory mereka ya dengan cara share the cypher sama mereka. Begitu juga ceritanya pas gue ke Singapura dan Australia.

Balik ke battle lawan Jabreak. Gue waktu itu mainnya sama anak-anak Senayan Breakers, karena emang mereka doang yang bales message gue di guest book Hihopindo waktu itu. Akhirnya lawan Jabreak di-set sama salah satu old school bboy dari Senayan Bboys namanya Indra Dagu dan kita battle lawan Jabreak selama 45 menitan hahaha... Setelah itu gue mulai main dan nongkrong sama anak-anak Jabreak dan sampe sekarang alhamdullilah kita jadi temen baik.


6. Gimana kesan lo ngeliat bboy scene di Indonesia waktu pertama kali pulang ke Indo?

Yang pasti sih yang mereka lakuin kebanyakan tricks. Basics dan foundations-nya masih kurang, apalagi knowledge nya. Jadi karena orang-orang belum tahu siapa gue juga pas jaman itu, kita ikutan battle besar di Jakarta Yang juri-jurinya bboys dari Too Phat dan pengisi acaranya Too Phat sendiri. Kita menangin tuh acara, gue bilang ke diri gue sendiri gue harus menangin ini dulu biar semua kenal dan tau gue siapa abis itu gue baru mau bangun scene bboys di sini lg dari awal dan pelan-pelan.

Setelah itu gue ngejuri acara Global TV Yang namanya "Let's Dance", Itu kita keliling Indonesia, ke semua kota besar dan kecil sampe ke pelosok. Itu gue setiap abis acara gue minta bboys2nya datang ke kamar gue dan gue selalu burn-in lagu-lagu breaks/funks dan klip-klip yang gue punya untuk mereka semua. Gue mau bangun seluruh bboys di Indonesia secara rata. Gak mau jakarta doang yang punya paling banyak source dll. Biar mereka saling compete secara rata dam adil dengan knowledge yang sama.

7. Gimana lo ngeliat perkembangan scene di Indonesia dari waktu lo pertama pulang ke Indo sampai sekarang?
Sekarang sih banyak yang gila hahaha... Keren dan gila. Kiblat mereka beda-beda juga jadi gue seneng ngeliatnya. Gue gak mau arahin mereka ke satu arah doang dan bilang "Harus nonton mereka-mereka kalo mau jd jago". Gak bisa gitu, karena breaking, sama dengan elemen hip hop lainnya, kita harus mengekspresikan apa yang kita suka dan kita rasain di dada kita sesuai dengan selera kita hehehe... Itu kenapa kita semua ngelakuin hip hop in the first place, cus we dont like being told! So express away, do wat makes you happy and be true to you, fuck everybody else.

8. Switch ke Raw Materials. Apa alasan lo bikin Raw Materials?
Alasan kenapa gue bikin Raw Materials karena disaat itu susah banget untuk orang-orang Indonesia untuk ke luar negeri. Gak cuman bboys doang yah, well apa lg bboys yang kebanyakn memang middle class ke bawah (itu di seluruh dunia). Keluar negeri aja dulu harus bayar fiskal yang harganya sejuta untuk per-orang diluar tiket kita. Jadi gue mikir, kenapa ga ajak temen-teman gue yang dari luar negeri untuk datang kesini dan share experience mereka ke bboys di sini. Gue cuma kasih tahu tujuan gue apa dengan acara itu dan mereka selalu support kalo emang tujuannya murni dari hati dan untuk membangun scene di Indonesia.

9. Bisa diceritain insiden di Raw Material 1 yang akhirnya bikin lo harus bayarin tiket untuk semua bboys yang dateng?
Gak semua bboys sih, cuma 200 orang pertama hahaha... Acara itu rame banget. Kayaknya sampe 300-350 orang. Awalnya kita udah deal sama venue itu untuk free entry. Tapi pas hari H orang venue-nya lihat betapa banyaknya orang yang datang dan mereka pengen duitin. Saat itu baru acara pertama gue jadi gue belum begitu ngerti soal kontrak hitam di atas putih, jadi mereka bisa aja ganti deal-nya di menit-menit terakhir karena gak ada kontrak. Ya kesel lah gue dan gue mau semua untuk datang dan jadi bagian dari acara itu. Jadi gue bayarin 200 orang pertama untuk masuk ke acara itu dan setelah acara itu venue itu tutup karena bangkrut hahaha... Makan tuh kemarukan!

10. Kalo lo diminta untuk ngasih saran untuk semua bboy di Indonesia, terutama bboy-bboy baru, saran apa yang akan lo kasih ke mereka?
Yang pasti harus belajar basics & foundations. Semua yang kita bangun kalo gak ada foundation pasti roboh, mau rumah, gedung, mall dll. Jadi penting untuk belajar foundations & basics. Gak harus dilakuin terus, tapi asal tahu dan bisa aja. Karena setelah bosen dengan lihat tricks yang ada di Youtube kalian pasti akan balik lagi ke basics dan pengen masterin basics. Karena basics banyak banget. Basics ada di toprock, footwork, leg work, back work, power, ground power, air power, both ways dan seterusnya.

Setelah bisa basics nah ulik deh tuh basics, pikirin dr gaya basics itu bisa dikemanain atau bisa diapain yang bisa dijadiin gaya lo sendiri. Penting juga untuk bisa power karena kalo gak bisa gerakan kita jadi limited. Kalo udah lumayan bisa itu semua kalian ikutin kata hati kalian aja tuh. Yang kalian rasain di bagian kiri dada hahaha... Lakuin apa yang kalian suka, lakuin apa yang buat kalian happy kalo lagi nge-break, be yourself, do what makes you happy, dont worry about what other people think, we break to express not to impress. Be you cause everybody else is already taken.

11. Shout out?
Shout out to Arthur for the interview. Udah gak ada lagi yang mau ngulik apa isi otak gue dan itu sayang banget gak dilakuin anak-anak sekarang. Karena untuk jadi hebat, kita harus curious terus dan tanya-tanya terus gimana caranya untuk jadi hebat dan gimana cara pikir untuk maju. Harus dimulai dengan cara pikir dan mental dulu sebelum praktek =) Thank you and God Bless all the Bboys in Indonesia. I love you all.




Sunday, April 17, 2016

Hai Teman

Senin, 18 April 2016

Hari ini saya bangun tidur seperti biasa, sekitar pukul 07.30. Pagi ini nampak seperti pagi-pagi lainnya, tidak ada yang istimewa. Setelah nyawa genap terkumpul dan kesadaran telah penuh saya bangkit lalu mengambil ponsel untuk melihat notifikasi aplikasi pesan singkat, memeriksa jika ada pesan yang belum terbaca atau terbalas selama saya terlelap. Hanya beberapa pesan soal pekerjaan, nanti saja lah dibalas. Kemudian saya, seperti kebanyakan dari kita semua, berlanjut ke sosial media. Instagram menjadi pilihan pertama. Belum banyak postingan pagi ini ternyata, mungkin mereka sudah menghabiskan bahan pamernya tadi malam, pikir saya. Saya menggeser layar ke bawah untuk menilik lini masa yang lampau. Saya beberapa kali menggeser layar sebelum terhenti di video yang diunggah oleh Bayu Tantaka, kawan baik saya. Brengsek. Seketika pagi ini menjadi tak biasa.

Video berdurasi 15 detik itu adalah video Bayu yang sedang menyanyikan lagu Hai-nya Monita Tahalea dengan ditemani gitar kopong di beranda depan kafe miliknya.

Hai teman, apa kabar?
Lama tak kudengar suaramu.
Apa harimu bermentari?

Dinyanyikan lengkap dengan ekspresi genit khasnya.

Sekilas video itu terlihat biasa saja, walaupun suara Bayu merdu sebenarnya. Tapi tidak bagi saya. Saya merasa ada yang berbeda. Saya merasa Bayu sedang menyapa saya, menanyakan kabar dan ingin tahu apakah saya baik-baik saja. Bukan hanya saya, tapi lewat videonya dia seperti mencoba untuk menyapa kami semua, sekumpulan manusia yang kebetulan bertemu kemudian bersahabat sejak kurang lebih tujuh tahun lalu yang menamakan diri 'Makansiang FC'.

Sekumpulan sahabat yang sekarang sudah jarang berkumpul selain di grup Whatsapp karena persoalan jarak dan waktu.

Teman-teman yang mengajarkan saya banyak hal. Banyak sekali. Kesederhanaan adalah satu yang paling berharga. Mereka bukanlah apa yang hari ini kita sebut dengan 'anak hits', tidak terlalu banyak orang yang mengenal nama mereka jika bukan keluarga atau teman-teman baik dan mereka nyaris tidak peduli dengan eksistensi pun reputasi dunia maya. Namun, demi Zeus, itu hal terbaiknya. Berkawan tanpa memandang atribut apapun. Gengsi sudah lama terhapus dalam kamus pertemanan kami. Pertemanan yang hanya berdasarkan rasa saling mengerti walaupun kami memiliki latar belakang masing-masing yang sekontras Slipknot dan SNSD.

Kebahagiaan kami hanya cukup dengan makan siang bersama di kedai makan Sambal Petir langganan kami, yang tampilan fisik makanannya tidak cukup fancy untuk difoto dan diunggah ke Instagram, tempatnya pun tidak cukup recognizable untuk check in di Path,  sembari membicarakan hal-hal tidak penting seperti isu politik dan curhat asmara, hingga yang penting seperti hasil pertandingan Liga Champions dini hari sebelumnya. Atau jika tidak, membual tentang mimpi kosong pun boleh.

Video Bayu itu mengingatkan saya kepada kawan-kawan saya yang satu ini, yang sampai hari ini, atau saya rasa sampai kapanpun, tidak saya temukan padanannya. Video itu terasa seperti dibuat untuk kami. Tapi bisa jadi saya hanya ge-er dan berasumsi berlebihan. Terlalu sentimental.

Entahlah. Atau mungkin saya hanya merindukan mereka...


Friday, April 8, 2016

Breakology; Persembahan Kecil Dari Carbon Crew

Each one teach one, each one reach one

Begitu bunyi peribahasa Afrika yang terkenal itu. Proverb yang dijadikan slogan oleh kolektif teragung di skena hip hop dunia; Universal Zulu Nation. Kalimat yang sama yang menginspirasi saya beserta segenap kolega di Carbon Crew untuk membuat workshop gratis tentang breakin. Ya, saya ulangi: workshop gratis. Idenya adalah untuk giving back to community. Sebagian dari kami telah menghabiskan setengah dari umur kami di Carbon Crew dan breakin. Breakin telah memberi kami banyak hal menyenangkan: teman, saudara, pengalaman, pundi rupiah dan identitas yang kami bawa kemanapun dengan bangga sejak sebelas tahun lalu. Kini saatnya kami untuk balik memberi.

Gimana kalo kita bikin workshop gratis aja?”, ceplos saya di tengah pembahasan soal apa yang akan kita buat untuk movement kali ini. Sedikit asal bacot saja sebetulnya. Tapi ternyata disetujui penuh. Kami sudah terlalu jengah melihat acara dance battle di mall sedangkan waktu kami belum cukup longgar untuk membuat sebuah pesta seperti yang kami lakukan ketika merayakan ulang tahun crew yang ke-7 dan ke-9 beberapa tahun silam. Saat ini kami masih terlalu sibuk bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dan berkejaran dengan tagihan-tagihan keparat yang setia menghampiri setiap bulan. Palu pun diketuk. Kami akan bikin workshop gratis yang kami beri nama Breakology. Ilmu tentang breakin.

Fase persiapan tidak membutuhkan terlalu banyak waktu, semua beres dikerjakan hanya dalam waktu seminggu dimana proses diskusi kami lebih banyak dilakukan di grup WhatsApp, yang biasanya kami gunakan untuk ghibah. Tidak terlalu mengejutkan mengingat persiapan yang diperlukan tidak terlalu banyak dan sudah biasa kami kerjakan. Yang mengagetkan justru yang terjadi setelahnya. Tanggal 30 Maret flyer event yang saya buat dengan skill desain semenjana kami unggah ke dunia maya melalui akun media sosial kami masing-masing, tak disangka dalam kurun waktu kurang dari 24 jam kuota 20 orang yang kami tetapkan (karena kapasitas maksimal studio yang akan kami gunakan adalah 20 orang) telah penuh. Yang lebih membuat kami kaget adalah dari 20 nama yang ada dalam daftar tak ada satu pun nama bboy atau bgirl. Singkatnya, mereka adalah orang-orang yang sama sekali awam dan ingin belajar breakin.

Kamis, 7 April 2016
Sekitar pukul 18.00 saya bersama Daniel, adik kandung saya yang juga personil Carbon, tiba di Urban Step Dance Studio (USDS) yang menjadi tempat pelaksanaan Breakology. Kredit tersendiri harus saya haturkan pada Dwipo, kawan saya pemilik USDS, yang sudah merelakan studionya diacak acak oleh bboy crew nir prestasi pun reputasi untuk workshop secara gratis. Setelahnya peserta mulai tampak berdatangan. Yang datang paling awal adalah kawan saya Fajar sang #BapakSkena yang bahkan sudah tiba sebelum saya datang. Kimbo Slice Tegal ini memang selalu yang paling on time.

Workshop baru dimulai pukul 19.20, molor sekitar 20 menit dari jadwal yang seharusnya. Komposisi peserta yang hadir cukup unik, sebagian adalah orang-orang yang lebih dikenal di kancah musik kota Solo; anggota band, manajer band hingga penggiat skena, ada juga beberapa orang dari kolektif seni grafis yang lebih akrab dengan Photoshop atau tinta sablon ketimbang lantai dansa, sisanya adalah wajah-wajah cantik hip hop dancer dan beberapa penari tradisional. Total 21 atau 22 orang yang hadir, jika saya tak luput menghitungnya, sedikit melampaui kuota. Tapi masa bodoh dengan kuota, selama ruangannya masih muat jejalkan saja. Entah apa yang ada di kepala mereka ketika mendaftar untuk mengikuti workshop ini, yang jelas antusiasme mereka menjadi energi tersendiri yang memenuhi ruangan bertembok biru itu.

Selama kurang lebih 2 jam para peserta menerima materi yang kami berikan, yang berupa gerakan-gerakan dasar dalam breakin: toprock dan footwork. Ini seperti dribble dan pass dalam basket. Beberapa peserta menyerah di tengah jalan karena tak kuat. Mereka lebih memilih stop ketimbang harus berurusan dengan Counterpain untuk beberapa hari ke depan. Keluhan tentang kram, nyeri otot dan keselo pun mulai terdengar di sepertiga akhir workshop. Pun demikian semua tetap bergembira. Kami tidak akan membiarkan hal remeh temeh macam itu menodai keriaan malam itu.

Bersenang-senang adalah esensi utamanya.

Unsur dari filosofi Peace, Unity, Love and Having Fun yang justru kerap terlupakan.


Dan yang saya tahu malam itu kami semua bersenang-senang di Breakology.