Wednesday, April 18, 2018

No Style Battle

Sebuah kolektif dansa dansi rahasia berencana membuat sesuatu yang berbeda. Mereka berencana membuat sebuah kompetisi street dance yang lain daripada yang lain. Revolusioner, out of the box, silahkan sebut semau anda kata-kata yang kurang lebih bermakna sama. Sebuah kompetisi yang belum pernah ada yang bernama – persiapkan diri anda untuk mendengarnya: no style battle.

Tak perlu membacanya ulang, karena anda tidak salah baca. Bukan mata atau lensa kacamata anda yang luput mengurutkan aksara demi aksara. Namanya memang no style battle, bukan all style battle seperti yang sering anda dengar atau baca. Lagipula hari ini 90% kompetisi di negeri ini memakai format all style battle, dimana letak kebaruannya?

Sekilas no style battle dan all style battle terdengar mirip, namun kenyataannya keduanya amat berbeda. Bahkan bisa dibilang hampir tidak berhubungan. Jika all style battle adalah kompetisi yang menandingkan penari-penari dengan berbagai style/genre tarian dalam kompetisi, maka no style battle justru akan berisi para penari-penari yang sama sekali tidak punya style. Dancers with no style.

Style dalam no style battle bukan merujuk pada genre tarian, melainkan style (gaya) secara harafiah dalam ranah fashion. Dancers with no style disini berarti penari-penari dengan pilihan busana yang buruk. Pilihan fashion yang membuat mata sakit adalah kriteria utama dalam no style battle. Kemampuan menari berada di urutan kesekian dalam daftar kriteria penilaian dewan juri dalam kompetisi ini.

Anda jago luar biasa sekaligus fashionable dalam setiap kesempatan terutama ketika mengikuti kompetisi? Jangan coba mendaftar, karena anda dipastikan akan gugur di tengah jalan, bahkan akan diragukan apakah anda bisa lolos dari babak preliminasi. Skill anda semenjana tapi anda menggunakan dandanan yang sama ketika datang ke battle dan ketika pergi ke warteg setelah bangun tidur? Mungkin ini kesempatan anda untuk merasakan singgasana juara yang rasanya mustahil anda raih di kompetisi lainnya.

Acara ini hendak diselenggarakan bukan secara asal-asalan, namun setelah melalui pengamatan yang seksama. Panitia penyelenggara, yang enggan dituliskan identitasnya, berniat menggelar acara ini setelah mengamati berbagai acara street dance di seluruh Indonesia dari tahun ke tahun. Dari observasinya tersebut mereka menemukan fakta bahwa golongan dancers with no style selalu ada di acara apapun. Bahkan jumlah mereka kerap lebih banyak dibanding para penari dengan busana yang enak dipandang mata. Ddata dan fakta di lapangan yang demikian lah yang membuat pihak organizer mantap hati mengadakan kompetisi no style battle. Dengan calon peserta potensial sebanyak itu bukan mustahil no style battle akan menjadi jenis kompetisi dengan jumlah peserta terbanyak di masa yang akan datang.

Apa anda berminat? (Arthur Garincha)



Saturday, February 24, 2018

Sheila On 7 Adalah Kita


Dulu saya tidak pernah sekalipun mengaku sebagai penggemar Sheila On 7 sebagaimana saya membaptis diri sebagai penggemar Slank, Superman Is Dead atau Shaggydog. Bagi saya gerombolan asal Jogja itu hanya salah satu dari sekian banyak band yang berseliweran di kancah musik pop Indonesia tanpa ada sesuatu yang membuat mereka menjadi spesial, paling tidak bagi saya. Tapi ternyata saya salah. Ternyata saya termasuk dalam barisan Sheila Gank – yang sempat saya tuding sebagai fanbase dengan nama paling katrok se-Indonesia – yang jika dibariskan jumlahnya mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan kepala.


Saya baru menyadarinya ketika dalam beberapa tahun belakangan saya beberapa kali menonton konser kolektif dengan reputasi paling mentereng yang dulu di awal kemunculannya banyak dilabeli sebagai band ndeso itu. Hal yang sama selalu muncul dalam beberapa kesempatan berbeda: saya nyaris selalu hafal semua lagu yang dibawakan dalam repertoar dan tiap lagunya mengandung muatan nostalgia yang mengalir deras lewat tiap bait yang terlantang serak. Ekstase. Rasanya seperti mengurut alur hidup sendiri secara musikal. Dan saya harus berterima kasih untuk Akhdiyat Duta Modjo dan kawan-kawan untuk hal itu.

Tak terpungkiri Sheila On 7 mengisi hampir seluruh fase dalam masa remaja saya. Lagu-lagu milik mereka berlalu lalang dalam indera pendengar dalam kurun waktu yang cukup lama untuk membuatnya terekam di alam bawah sadar. Saya mendengarnya hampir di semua tempat dan waktu: di layar MTV, waktu senggang di kamar, radio, pusat perbelanjaan, kampus hingga saat lagu-lagu itu terputar sayup lewat Winamp dari dalam kamar kos seorang kawan sementara sepasang sepatu perempuan yang lupa dimasukkan tergeletak tepat di depan pintu kamarnya yang terkunci.

“Dan” tentu saja menjadi yang pertama dari semuanya. Masih membayang jelas intro-nya yang ikonik terputar lewat tape deck ketika sleeve hijaunya tergeletak sembarangan di tempat tidur kamar yang berantakan. “Kita” ada di urutan selanjutnya. Sayang lagu ini akan selamanya terkenang sebagai soundtrack film Lupus nya Irgi Fahrezi yang jelek minta ampun itu. Sedangkan “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki” memberi saya dan banyak anak SMP lain di luar sana pada saat itu kesempatan untuk merasa cool karena sukses memainkan sebuah lagu pop dengan gitar secara benar. Salah satu lagu yang saking manisnya bisa membuat anda terkena diabetes bila terlalu sering mendengarkannya.

 “Sebuah Kisah Klasik” bisa jadi adalah lagu Sheila On 7 yang paling dalam menancap bagi saya. Mengingatkan saya kepada beberapa orang sahabat semasa kuliah yang dengan merekalah saya menghabiskan waktu setiap hari dengan membicarakan ide-ide sembrono yang sok tahu dan mimpi-mimpi kosong khas usia dua puluh dua, jika tidak sedang sibuk bercerita tentang hitam putih asmara.

Bersenang-senanglah. Karena hari ini yang kan kita rindukan.
Di hari nanti. Sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Begitu Eross Chandra menulis. ‘Hari ini’ itu pun kini sudah menjadi kisah klasik ketika ‘masa depan’ itu telah menjelma menjadi hari ini. Dan kami akan selamanya merindukan ‘hari ini’ itu. Dan “Sahabat Sejati” serta “Melompat Lebih Tinggi” menggenapi semuanya.

Ah, dan bagaimana mungkin saya bisa melupakan “Pria Kesepian” yang sempat ditahbiskan menjadi anthem para kaum tuna asmara? Atau bagaimana saya bisa lupa ketika lewat “Sephia” Sheila On 7 memberi sebutan yang jauh lebih anggun kepada kekasih gelap jauh sebelum istilah pelakor yang memuakkan itu memenuhi udara? Bagaimana pula saya bisa lupa ketika “Itu Aku”, “Pemuja Rahasia”, “Yang Terlewatkan” dan “Mudah Saja” terlantun lewat kocokan gitar murah dan teriakan lantang bersanding dengan ilingan arak menggelontor kerongkongan dan merendam lambung yang membantu agar keluh kesah tentang patah hati atau jatuh cinta meluncur lebih lancar. Berkeliling dan bercerita.

Saya tahu saya tak sendiri. Banyak orang di luar sana yang sebagian hidupnya merasa terwakilkan oleh lagu-lagu Sheila On 7. Rasa yang terekam dalam pita dan cakram, atau bahkan arsip unduhan illegal dari seri Sheila On 7 hingga Musim Yang Baik, atau yang teranyar single “Lagu Favorit”. Untuk saya dan mereka, Sheila On 7 adalah kita. (Arthur Garincha)

Picture: sheilaon7.com

Monday, January 22, 2018

Dance Studio vs Street

Ngakunya streetdancer tapi kok latihannya di studio? Studio is not real”. Betulkah demikian?
Kalimat semacam itu kerap terdengar semenjak dance studio mulai bermunculan dan menarik tarian-tarian yang berasal dari jalanan, seperti hip hop dance untuk berpindah tempat dari aspal keras di pinggir jalan atau di pelataran sebuah bangunan ke ruangan studio ber-AC dengan sound system memadai. Biasanya datangnya dari para Taliban street dance yang bersikeras menjaga kemurnian bentuk asli street dance agar tetap sesuai dengan khittah-nya.
Tapi benarkah jalanan lebih baik dari studio? Atau justru sebaliknya?
Jalanan sebagai tempat kelahiran street dance tentunya harus diberi penghormatan sebagaimana mestinya. Jalanan mengajarkan hal-hal tak tertulis yang vital: respek, kekeluargaan yang kental dan spontanitas pun keliaran khas jalanan. Hal-hal yang rasanya sulit untuk ditemukan dalam kurikulum studio manapun.
Mempelajari street dance secara jalanan akan membuat tarian yang dipelajari lebih terasa otentik. Mempelajari dan melakukannya di jalanan, tempat tarian-tarian itu berasal, akan membuat kita merasakan kemurnian tarian itu sebagaimana bentuk aslinya dahulu. Jalanan akan mengajarkan hal-hal yang bersifat kultural, yang mana penting - sama pentingnya dengan tehnik - untuk dipelajari.


Bagaimana dengan studio?
Studio dengan segala fasilitasnya – ruangan ber-AC, lantai berkualitas, kaca cermin, sound system - akan sangat membantu para penari untuk mencapai tingkatan yang lain dalam menari, salah satunya jika menyangkut pertunjukkan. Berlatih untuk menyiapkan sebuah pertunjukkan akan jauh lebih mudah jika dilakukan di studio ketimbang di jalanan. Bukan berati tidak bisa dilakukan di jalanan, namun akan jauh lebih sulit. Salah satu contohnya: mensinkronkan gerakan banyak orang akan lebih mudah dengan bantuan cermin bukan?
Studio juga merupakan tempat dimana street dance dan para pelakunya bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih profesional karena bagaimanapun, seperti yang kita mahfum bersama, dance studio adalah juga merupakan sebuah bentuk bisnis – tak peduli se-“real” apapun pemiliknya - dimana profesionalitas mutlak dibutuhkan.
Hal ini tentu membawa dampak positif bagi para penari. Para penari bisa mendapat penghasilan dari pekerjaan mereka sebagai pengajar di studio.  Bisa menghasilkan uang dari hal yang anda sukai tentu akan terasa sangat menyenangkan bukan?

Jalanan dan studio, masing-masing mempunyai nilai plus dan minus nya sendiri-sendiri. Silahkan dipertimbangkan dan kemudian memilih yang anda rasa paling tepat untuk anda. Jalani pilihan anda sebaiknya. Dan yang lebih penting tak perlu menyerang atau menyalahkan pilihan orang lain yang tak sejalan dengan pilihan anda. Jangan jadi fasis dansa-dansi, karena seperti kata Homicide: “Fasis yang baik adalah fasis yang mati”. (Arthur Garincha)

Wednesday, June 7, 2017

Mengapa Dancer Harus Dibayar Mahal?

Dancer kok bayarannya mahal sih? Padahal performance-nya kan cuma sebentar” – Banyak orang di luar sana.



Hari ini dancer sudah menjadi sebuah profesi yang cukup menjanjikan. Banyak penari yang memutuskan untuk total di dunia dansa dansi dan menggantungkan hidup darinya. Hal demikian terjadi tentu saja terjadi karena menari bisa mendatangkan penghasilan yang tak bisa dibilang kecil.

Para penari, terutama di kota-kota besar, bisa mendapatkan rupiah yang tak sedikit dari tiap penampilannya: ratusan ribu hingga jutaan. Namun hal itu juga menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang awam (yang bukan penari) di luar sana: kenapa dancer bisa mendapat bayaran sebesar itu?

Inilah beberapa alasannya:

1. Proses yang panjang
Perlu dipahami lebih dulu untuk menjadi seorang penari profesional membutuhkan waktu yang tidak singkat dalam berproses. Untuk mencapai level tersebut para penari itu harus melewati waktu bertahun-tahun guna mempelajari bukan hanya tekhnik menari namun juga pola pikir dan habit yang akan membawa mereka ke sebuah bentuk profesionalitas yang mutlak harus dimiliki oleh penari profesional.

Semakin tinggi jam terbang, dengan proses yang benar tentunya, maka akan makin tinggi pula kualitas seorang penari. Proses yang panjang inilah yang harus dihargai sebagaimana mestinya.

2. Waktu latihan
Salah satu yang paling banyak menimbulkan pertanyaan perihal bayaran dancer yang menurut sebagian orang relatif mahal adalah durasi penampilan yang terbilang singkat, bila dibandingkan dengan music performance misalnya.

Sebuah dance group biasanya tampil dengan durasi 4 hingga 6 menit,  yang mungkin untuk sebagian orang adalah durasi yang sangat singkat. Jika anda termasuk dalam golongan yang berpikir demikian, ada satu hal yang perlu anda ketahui: koreografi sepanjang 4 hingga 6 menit itu tidak tercipta melalui proses simsalabim-jadi apa-prok prok prok seperti acara sulap itu.

Untuk menghasilkan pertunjukkan dengan durasi 4 hingga 6 menit itu diperlukan  proses kreatif, yang kerap kali cukup memusingkan dan menguras energi, untuk membuat koreografi yang akan dibawakan. Dan bila idenya sudah ditentukan, para penari harus melakukan serangkaian proses latihan untuk mewujudkan ide tersebut. Latihan yang tidak ringan tentunya. Untuk menyiapkan performance 4 hingga 6 menit itu diperlukan waktu latihan berjam-jam tiap harinya dalam beberapa hari. Tak jarang bahkan para penari harus begadang demi hasil yang maksimal.

Jika anda penasaran cobalah sesekali anda mengikuti proses latihan para penari itu, niscaya anda akan mengerti mengapa mereka dibayar dengan cukup tinggi.

3. Musik, kostum dan tata rias
Bicara pertunjukkan tari bukan hanya bicara soal tarian semata, namun juga berarti bicara soal musik, kostum dan perlengkapan lain yang dibutuhkan.

Menari tentu saja membutuhkan musik. Diperlukan kemampuan music producing, atau paling tidak music mixing, yang mumpuni untuk dapat menghasilkan musik yang maksimal. Dan tentu kita semua paham sekrusial apa peranan musik dalam sebuah dance performance.

Kostum dan tata rias pun tak kalah pentingnya. Seperti yang kita ketahui tari adalah seni visual dan demi memuaskan kebutuhan netra para hadirin tentu dibutuhkan kostum dan tata rias yang sesuai. Pun kita semua tahu itu membutuhkan biaya.

(Arthur Garincha)

Monday, August 1, 2016

Membandingkan Ganteng Ganteng Swag dengan Fuck tha Police? Anda Pasti Sedang Bercanda

Beberapa waktu lalu sebuah lagu berjudul Ganteng Ganteng Swag (GGS) menjadi buah bibir seluruh netizen di NKRI. Lagu milik Young Lex dan kawan-kawan ini menjadi kontroversi dan menjadi pembicaraan hampir di semua lini masyarakat dengan dua sebab utama: pertama, lagu GGS memuat lirik yang bertaburan dengan kata kasar dan memberi pengaruh buruk kepada anak-anak. Mungkin Young Lex dan rekan-rekan tidak sadar bahwa penikmat karya mereka kebanyakan adalah anak-anak usia SD dan SMP. Ayolah, orang dewasa macam apa yang doyan mendengar lagu rap dengan lirik “Andovi da lopez gak pernah mandi. Bajunya juga gak diganti-ganti” di dalamnya.

Penyebab kedua, yang menurut saya penganutnya lebih banyak namun malu-malu untuk mengaku, adalah karena lagu ini, dan para penyanyinya, sangat katro namun ngetop bukan main. Saya tentu saja berada di barisan yang ini.

Bersamaan dengan viralnya kalimat “Youtube lebih dari TV. Boom!” makin banyak pula yang berkomentar tentang lagu GGS. Tak terhitung banyaknya orang yang mencerca Young Lex dan Shittyindonesian24, maaf, maksud saya Skinnyindonesian24 sebagai perusak moral kaum muda bangsa. Namun jangan salah, ternyata tak sedikit pula orang yang tergabung dalam Young Lex Militia dan Front Pembela Skinny yang mati-matian membela enam rapper tersebut. Dari sekian banyak barisan pembela salah satunya adalah Pandji Pragiwaksono, salah satu idola saya.

Dalam tulisan di blog pribadinya Pandji terang-terangan membela para pelantun tembang GGS beserta segala opini dan alasannnya. Mulai dari persoalan tuduhan memberi contoh buruk pada anak-anak hingga membandingkan lagu GGS dengan lagu Fuck tha Police milik NWA. Saya tidak akan berkomentar mengenai  efek buruk lagu GGS terhadap pendengarnya yang masih anak-anak, tapi menyamakan Ganteng Ganteng Swag dengan Fuck tha Police? Anda pasti sedang bercanda.


Pandji menganggap lagu GGS sebagai apa yang disebut oleh Ice Cube sebagai “reflection of our society”, seperti halnya lagu Fuck tha Police yang melegenda itu menggambarkan keadaan lingkungan sosial di Compton pada saat lagu itu dirilis di akhir dekade 80. Pertanyaannya: keadaan mana yang direfleksikan oleh lagu GGS? Apa yang diharapkan tergambarkan dari lirik “Fuck pencitraan. Nakal tapi tampan” ketika semua tahu di Instagram si penyanyinya sibuk membentuk citra diri? Apalagi bagi sebagian orang dia juga tidak tampan.

Bagi saya satu-satunya potongan lirik yang relevan untuk menggambarkan cuilan keadaan di sekitar hanya bagian “Youtube lebih dari TV” dan sebaris lirik tentu saja tidak cukup untuk merepresentasikan keseluruhan sebuah lagu. Satu-satunya persamaan dari dua lagu tersebut untuk saya hanya sama-sama banyak dihujat dan dihujani protes. Itu saja.

Saya belum bisa memahami pemikiran Pandji yang membandingkan GGS dengan Fuck tha Police, namun jelas menganggap lirik:

Ahmad Kemal Pahlevi (yoi) gua Ahmad Kemal Pahlevi
Cita cita jadi haji (boom)
Cowok ganteng banyak sedikit prestasi
Mending gua mandiri dari stand up comedy

sebanding dengan:

Fuck the police coming straight from the underground
A young nigga got it bad cause I’m brown
And not the other color so police think
They have the authority to kill minority

jelas tidak dapat diterima.

Sekilas saya terdengar seperti hater-nya Pandji Pragiwaksono, tapi, demi Eric Cantona, saya adalah salah satu pengagumnya. Saya menikmati semua karyanya kecuali ketika beliau sedang memegang mic untuk nge-rap. Mungkin Pandji sedang berlelucon ketika menyamakan lagu GGS dengan Fuck tha Police, karena seperti semua bit-nya dalam Mesakke Bangsaku, yang satu ini juga membuat saya tertawa terbahak-bahak. (Arthur Garincha)


Kolesterol, Gengsi dan Kepala yang Pening

“Hidup itu gak susah sebetulnya, gengsinya yang bikin susah”, seloroh seorang kawan dalam sebuah sesi berbincang mengomentari gaya hidup mayoritas masyarakat Indonesia hari ini. Tidak semua memang, namun reratanya seperti itu. Gengsi, saat ini, adalah kebutuhan tersier yang (dipaksa) naik kasta menjadi kebutuhan primer.

Pun gengsi tak memandang umur, gender, kemampuan finansial dan status sosial. Para orang tua dari kelas menengah berlomba membuat pesta pernikahan  semewah mungkin – tak jarang hingga berhutang - untuk anak gadisnya agar status sosialnya terelevasi ke tingkat tertentu yang diharapkan atau sekedar hanya agar tidak “kalah” dari sanak famili atau rekan sejawat yang juga menikahkan anaknya dalam waktu berdekatan. Di saat yang sama seorang mahasiswa rantau asyik nongkrong di warung kopi Amerika nan fancy di tengah hutan beton metropolis demi satu atau dua postingan di Instagram sementara orang tuanya yang buruh tani membanting tulang di desa untuk mengirim uang bulanan tanpa tahu bahwa anaknya alih-alih menjadi mahasiswa teladan di kota justru banting setir menjadi atlet dari cabang panjat sosial.

Lucunya, semua itu dilakukan sering kali tanpa tujuan yang membahagiakan. Agar dianggap “wah” dan membuktikan kepada orang lain bahwa kita pun bisa melakukan apa yang mereka lakukan adalah salah dua alasannya. Ingin membuat orang lain, biasanya justru adalah orang yang tidak disukai, iri adalah alasan lainnya yang sering dijadikan sebab. “We buy things we don’t need with money we don’t have to impress people we don’t like”, begitu kata Chuck Palahniuk dalam Fight Club. Iya, gila memang.

Gengsi sangat mirip dengan kolesterol. Ya, senyawa yang dianggap brengsek dan ditakuti sebagian umat manusia itu.

Meniadakan kolesterol, seperti halnya pula gengsi, dalam hidup kita adalah, meminjam kalimat Asmuni, hil yang mustahal. Itu adalah hal yang natural. Rumput hijau, gula manis dan manusia punya kolesterol maupun gengsi. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrolnya agar tetap dalam batas yang wajar dan tidak merugikan. Hal ini sangat penting untuk diingat demi kebaikan anda sendiri, karena kolesterol dan gengsi pada dasarnya mempunyai satu kesamaan: kalau ketinggian bisa bikin pusing.

Kandungan kolesterol yang tinggi didapat dari kebiasaan mengonsumsi hal-hal yang sebetulnya tidak kita butuhkan demi pemenuhan keinginan secara berlebihan. Demikian pula adanya gengsi. Semakin kita menuruti hasrat untuk memenuhi keinginan-keinginan kurang penting itu maka tanpa kita sadari kadar gengsi pun akan semakin tinggi. Jika terlanjur tinggi akan sedikit sulit memang untuk menekannya ke bawah. Maka lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?


Bolehlah sekali-sekali makan makanan berlemak sepuasnya atau membeli sneakers seharga setengah gaji sebulan. Kali terakhir diperiksa dua hal itu tidak masuk dalam kategori tindak kriminal jadi sah-sah aja untuk dilakukan. Silahkan. Yang tidak disarankan adalah untuk melakukannya lebih sering dari kemampuan anda. Jika anda nekat maka bersiapah untuk dilanda pening yang amat sangat, yang entah disebabkan oleh pembuluh darah di sekitar kepala yang tersumbat lemak atau jumlah pengeluaran bulanan yang lebih besar dari penghasilan.

Maka dari itu amat penting untuk kita semua, saya dan anda, untuk melindungi diri dari monster tak berwujud namun amat berbahaya bernama gengsi. Harus kita pahami dan sepakati bahwa gengsi adalah hal tak terpisahkan dalam diri seorang manusia, kecuali nama anda adalah Tong Sam Cong. Namun sebagai manusia yang diberkahi akal budi dan pikiran semestinya kita mampu mengendalikan gengsi dalam diri kita.

Cara yang paling sederhana adalah dengan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Rumput tetangga mungkin memang terlihat lebih hijau tapi siapa tahu di tanah kita yang panas dan berpasir justru terkandung minyak bumi jika digali lebih dalam. Akan sayang sekali bila kita menghabiskan waktu yang kita miliki untuk berusaha menumbukan rumput untuk menyaingi tetangga ketimbang menggali minyak bumi itu.

Lagipula apakah anda tahu salah satu akibat yang mengancam dari kolesterol dan gengsi yang tingginya sudah melewati batas? Betul sekali: stroke. (Arthur Garincha)

Friday, July 1, 2016

Pekerjaan Paling Asyik di Dunia

"Choose a job you love and you will never have to work a day in your life" - Confucius

Pertengahan Januari 2016

Saat itu saya sedang dalam perjalanan menyetir pulang ketika ponsel saya berdering. Sekitar jam 10 malam. Belum terlalu larut memang, tapi saya sedang malas menghabiskan malam di luar rumah. Nama Hamdi Fabas, seorang big brother from another mother, terpampang pada layar. Panggilan yang menjadikan tahun 2016 menjadi salah satu tahun yang paling membahagiakan bagi saya.

Singkatnya saya ditawari pekerjaan yang tak pernah saya sangka-sangka sebelumnya. Bukan, bukan sebagai anggota DPR, walaupun itu boleh juga. Saya disodori dengan tawaran yang tak mungkin saya tolak: bekerja sebagai penulis untuk menulis semua yang berhubungan dengan dance di sebuah website gaya hidup. Tawaran yang terdengar seperti ajakan bercinta oleh Emma Stone di sebuah malam. Hil yang mustahal untuk saya tolak.

Akhirnya tulisan saya akan terpampang di media beneran, bukan hanya di kertas-kertas binder sebagai hasil membunuh bosan di tengah perkuliahan atau di blog minim klik ini. Akhirnya saya bisa menggunakan "penulis" sebagai jawaban jika ada orang yang bertanya perihal pekerjaan yang saya lakukan. Ditambah lagi saya diminta menulis tentang hal yang saya sukai selama lebih dari satu dekade. Brengsek betul kan kabar baiknya.


1 Juli 2016

Saat ini saya memasuki bulan keenam bekerja sebagai penulis di website qubicle.id untuk qube Dancetraction. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah bersyukur atas pekerjaan yang sejauh ini sangat menyenangkan. Saya bisa bekerja dari rumah, tanpa mandi pun tak masalah bahkan saya bisa saja bekerja sambil menghisap rumput Jamaika seandainya saya ingin - dan siap diusir dari rumah jika ketahuan oleh ibu saya.

Setelah kurang lebih setengah tahun menulis hal yang paling menyenangkan, selain bayarannya tentu saja, adalah pekerjaan ini selalu menuntut saya untuk belajar lagi. Mencari informasi dan bertanya sana sini untuk dijadikan bahan tulisan. Mempelajari semua tentang skena dansa dansi secara lebih mendetail; sejarah, perkembangan dan hal-hal menarik dari semua genre. Saya seperti kembali ke masa awal saya menari, dimana saya sangat banyak mencari tahu tentang tarian yang saya lakukan. Bertanya kepada semua orang-orang yang saya temui tentang dance, mulai dari yang technical hingga perihal filosofis dan historis.

Hal menyenangkan lainnya adalah kesempatan yang saya dapat untuk bertemu dan berkenalan dengan orang-orang hebat dari skena dansa-dansi; mulai dari penari lokal yang namanya sudah saya dengar sejak lama namun belum sempat berkenalan hingga penari kelas dunia yang saya idolakan sejak lama. Norak? Biar saja. Ini juga serupa dengan saya yang sepuluh tahun lalu, ketika saya sedang giat-giatnya mencari teman di berbagai kota di Indonesia, dengan cara mendatangi mereka ke kotanya tentu saja, bukan dengan mengirimkan friend request di Facebook.


Well, lewat tulisan ini saya hanya ingin mewujudkan rasa syukur terhadap pekerjaan menyenangkan ini dalam bentuk aksara. Juga untuk menghaturkan terima kasih sebesarnya untuk kawan baik sekaligus idola saya Hamdi Fabas dan rekan kerja sekaligus kakak saya di Tim Hore Dancetraction Christi Vany untuk kepercayaannya selama ini. Juga semua yang membantu saya dalam proses menulis. Yang tak kalah penting juga semua orang yang sudah membaca tulisan-tulisan saya, karena tanpa kalian besar kemungkinan kontrak saya tidak diperpanjang lagi.

Salam.