Wednesday, June 5, 2013

Semakin Susah Dilafalkan Semakin Keren

Imperialisme, akulturasi, semiotika, diferensiasi....

Apakah kata-kata itu ribet dilafalkan? Ya. Apakah kata-kata itu terlihat dan terdengar keren? Ya.
Apakah anda mengerti benar apa arti kata--kata itu? Sebagian menjawab 'ya', sebagian menjawab 'tidak, sebagian lainnya menjawab 'ya' setelah mendapat jawabannya dari Google karena malu untuk menjawab 'tidak'.

Bagaimana dengan 'penjajahan', 'percampuran budaya', 'simbol dan tanda', 'pembedaan'?
Apakah anda mengerti kata-kata diatas? Saya yakin sebagian besar menjawab 'ya'. Apakah kata-kata tersebut terlihat atau terdengar keren ketika dilafalkan? Mmmm.... Mungkin Arthurium Garinchanicus terdengar lebih keren, walaupun tidak ada artinya.

Sebagian orang lebih suka berbicara dengan menggunakan pilihan kata-kata yang sulit tanpa peduli siapa saja lawan bicaranya. Kenapa? Hipotesa saya ada dua, yang pertama adalah kebiasaan, sedangkan yang kedua, yang menjadi alasan mayoritas, adalah karena mereka ingin terlihat atau terdengar keren atau pintar atau ilmiah atau ketiganya sekaligus. Maafkan kalau hipotesa saya meleset, saya bukan Shinichi Kudo atau Heiji Hattori.
Tapi, ayolah, pasti pernah minimal dalam sekali seumur hidup kita menjumpai tipikal orang yang gemar sekali memakai kata-kata sukar nan ilmiah dalam percakapan tanpa memperhitungkan siapa lawan bicaranya. Atau jangan-jangan anda termasuk dalam tipikal ini?
Tolong garis bawahi dan cetak tebal di bagian 'tanpa memperhitungkan siapa lawan bicaranya'.

Di kampus saya ada seorang dosen. Beliau profesor yang menerbitkan banyak buku. Tingkat kualitas otaknya saya kira tidak perlu diragukan lagi. Mungkin beliau ini adalah titisan Jimmy Neutron.
Saya sempat mengikuti kuliah beliau di sebuah mata kuliah. Yang ada di kepala saat itu adalah dua hal: pertama, mungkin beliau mengira semua mahasiswanya adalah Dekisugi di masa kuliahnya dan kedua, beliau mungkin lupa dengan kata-kata sederhana yang dikenal oleh spesies manusia biasa seperti saya, mungkin karena terlalu sering membaca dan menulis istilah-istilah ilmiah. Entahlah.
Yang jelas para mahasiswanya merasa tidak nyaman, kecuali segelintir jenius dan dua gelintir pencari muka yang sok-sokan ngerti padahal sama tidak pahamnya. Tapi bukankah kuliah itu hak semua mahasiswa? Lagipula, bukankah tujuan mulia perkuliahan adalah membuat mahasiswa yang semula tidak paham akan suatu ilmu menjadi paham. Masalahnya bagaimana mau paham bila kosakata yang digunakan saja asing di telinga? Seasing kata 'soccer' untuk hooligan di Inggris.

Untuk tipikal orang yang memakai-kosakata-sulit-karena-ingin-terlihat-keren-dan-pintar-dan-ilmiah, saya punya sebuah kutipan untuk anda yang mungkin berguna: 'Orang pintar bisa menjelaskan hal-hal sulit dengan kata-kata yang sederhana'.

Don't thank me

No comments:

Post a Comment