Saturday, March 9, 2013

Manchester United Adalah Takdir

'Kenapa namanya 'jatuh cinta'? Bukan 'naik cinta' atau 'masuk cinta'? Kenapa harus 'jatuh'?', seorang teman pernah berteka-teki suatu ketika. Jawabnya adalah: 'Karena kita gak tahu kapan kita akan jatuh. Kita juga gak pernah merencanakan untuk jatuh. Dan kita gak bisa menolak ketika kita jatuh. Seperti takdir'

Romantis sekali memang teman saya yang satu itu.

Tapi diam-diam saya setuju dengan permainan kata-katanya.

Saya jadi teringat dengan romantisme yang terjalin lebih dari satu dekade lamanya. Lebih dari setengah usia saya. Romantisme yang mungkin akan saya bawa sampai mati. Romantisme yang tidak pernah saya rencanakan sekaligus tidak bisa saya tolak datangnya, Seperti takdir. Romantisme saya dengan klub sepakbola dari kota Manchester bernama Manchester United Football Club. Klub sepakbola idola saya, yang pertama dan besar kemungkinan sekaligus yang terakhir. 

Ah, betapa romantis.

Kira-kira tahun 1997, saat saya duduk di kelas 4 SD, seperti anak-anak seumuran lainnya saya juga menggilai sepakbola. Hampir tiap sore saya 'merumput' di lapangan komplek yang konturnya bergelombang dan bentuknya tidak benar-benar presisi segi empat. Satu hal yang jadi tren saat itu adalah: menaikkan kerah jersey saat bermain. Apapun jerseymu bila itu berkerah pastikan kerahnya dinaikkan, bila tidak kamu akan terlihat seperti datang ke acara musik terkini tanpa memakai celana Peter Says Denim.

Tanpa saya tahu oknum yang menjadi trendsetter-nya, saya pun terbius tren kerah itu. Sialnya, waktu itu saya belum punya jersey sepakbola. Jadilah saya minta ayah saya untuk membelikan jersey, saya tak ambil pusing apapun klubnya, syarat mutlaknya: harus berkerah.

Entah apa yang ada di pikiran ayah saya ketika membelikan saya jersey berwarna putih dengan aksen merah dan hitam bertuliskan Sharp Viewcam di dada waktu itu. Ya, itu adalah kostum away Manchester Unied edisi 97/98. Padahal ayah saya sampai sekarang benci dengan The Red Devils, beliau penggemar Bayern Muenchen. Alasan paling masuk akal adalah: cuma itu satu-satunya jersey berkerah di toko itu.

Dari jersey itulah takdir saya dan Manchester United dimulai. Jersey itu selalu saya pakai dengan bangga, dengan kerah dinaikkan tentunya. Belakangan saya baru tahu bahwa adalah Eric Cantona, pemain bintang Manchester United, klub yang jerseynya selalu saya pakai, adalah sosok yang bertanggung jawab dari maraknya trend kerah itu. Bisa dibilang itulah momen sakral penahbisan saya sebagai seorang pemuja setan. Setan merah. The red devils.

Selanjutnya adalah jalan takdir. Apapun yang dibuat dan dicapai oleh United saya selalu berada dalam barisan pendukungnya, yang konon sekarang jumlahnya adalah yang terbanyak di dunia. Sejak itu saya hanya punya merah sebagai warna dan Glory Glory Manchester United sebagai motto hidup setelah dua kalimat syahadat dan Bhineka Tunggal Ika.

Musim 98/99 adalah musim terbaik bagi saya dan mungkin juga bagi banyak pendukung United lainnya dan 26 Mei 1999 adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya masih ingat bagaimana saya tercekat ketika sepakan Mario Basler menembus gawang Peter Schmeichel, bagaimana saya putus asa United masih tertinggal satu gol hingga menit 90 dan bagaimana girangnya saya ketika 'mukjizat 120 detik' membawa United berbalik unggul untuk meraih treble winner yang prestisius. Malam itu saya mulai percaya bahwa sosok pria dengan baju merah pembawa kebahagiaan itu nyata, bukan, bukan Santa Clauss, namanya adalah Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer.

Glory hunter? Bukan, ini takdir 



No comments:

Post a Comment