Saturday, February 23, 2013

Filosofi Pegas, Busur dan Manchester United

Tiap orang pasti pernah merasakan tekanan dalam hidupnya. Entah dalam wujud dan rupa bagaimana, problema pasti pernah (atau sering?) menekan kita bagaikan gravitasi bumi menekan benda-benda di permukaan bumi ke arah pusat bumi.

Tekanan yang datang kadang terasa berat, bahkan terlalu berat, yang membuat kita merasa lebih baik untuk adu gulat melawan Hulk daripada menghadapi masalah dengan berani, seberani Leonidas dan 300 tentara Spartan menghadapi pasukan masif milik Xerxes. Kita sering merasa sudah kalah duluan sebelum perang melawan masalah. Dan menurut saya itu sikap yang salah.

Seharusnya kita mencontoh per pegas atau busur.

Lihat per pegas, tiap kali ditekan dia memang akan menciut, mengecil dan menahan beban, tapi ketika per mengeluarkan daya pegasnya dia akan 'memukul balik' tekanan yang diberikan padanya, dengan gaya yang sama, dan bila tidak ada penghalang di atasnya per akan melontar tinggi ke atas setinggi lompatan girang Paman Gober ketika menemukan emas pertamanya di Klondik.


Pun demikian dengan busur dan anak panah.

Ketika tali busur ditarik oleh otot-otot lengan kekar Robin Hood atau Harjuna ada tekanan yang memaksa busur meregang ke batas maksimal. Mungkin andai kata busur bisa bicara, kemungkinan besar dia akan mengutuk pemegangnya tiap kali mereka membidik, busur Robin Hood akan berteriak 'Fuck you, nigga!', busur Harjuna akan misuh 'Asu!'. Namun lihatlah ketika, setelah ditarik sampai batas maksimalnya, tali busur dilepaskan dan daya pegasnya akan melesatkan anak panah ke sasaran tanpa ampun. Anak panah Robin menghajar kroco-kroco Sherrif of Nottingham sedang Pasoepati-nya Harjuna menebas kepala para Kurawa.


Tak perlu lah kita menjadi Robin Hood dan Harjuna. Tapi apa salahnya kita meniru filosofi busur mereka? Atau per pegas, yang kelihatannya kecil tapi ternyata menyimpan filosofi nan dahsyat. Maka ijinkanlah saya meminjam gaya Mario Teguh dalam berturtur ketika menyampaikan kalimat-kalimat motivasinya yang syuper.

'Jadilah pegas atau busur. Jadikanlah tekanan yang menekan anda sebagai kekuatan untuk melesat ke arah yang lebih baik'
Coki Sitohang pun menyahut, 'Super sekali Pak Mario'

Maka jadilah kita sebagai per dan busur. Jangan kita memposisikan diri menjadi tanah liat yang akan gepeng atau batu kapur yang akan hancur berantakan ketika mendapat tekanan.

.......

Khusus untuk penggemar Manchester United, seperti saya, ada satu lagi analogi tambahan: Jika anda tidak bisa , atau tidak mau, menjadi per atau busur maka jadilah Manchester United di final liga Champions edisi 98/99.

Setelah ditekan terus menerus selama hampir 90 menit dan tertinggal oleh gol Mario Basler di menit ke 6, pasukan Alex Ferguson (waktu itu masih tanpa Sir) melepaskan daya pegas dan memukul balik lewat gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer di masa injury time.
Red Devils pun menggulung raksasa bavaria Bayern Muenchen dan merajai Eropa dan melengkapi treble winner yang melegenda.

No comments:

Post a Comment