Sunday, January 12, 2014

Membaca Buku Tentang Buku

Apa yang bisa diharapkan untuk kita temui di sebuah clothing exhibition berlevel nasional selain ribuan busana yang nyaris seragam milik puluhan clothing company peserta pameran dan penuh sesaknya pengunjung yang mengenakan pakaian terbaik mereka yang (sayangnya) sama seragamnya dengan barang-barang yang dijajakan? Saking seragamnya mungkin beberapa orang yang kurang mengerti akan mengira panitia menentukan drescode yang harus dikenakan oleh mereka yang datang.

Saya juga tidak terlalu berekspektasi menemukan hal lain di acara semacam ini, kecuali mungkin barisan musisi keren yang akan mengisi panggung yang jamak ditemui di acara clothing exhibition.
Sekedar catatan, alasan mengapa saya berada di sebuah clothing exhibition adalah dalam rangka memenuhi kewajiban kepada pihak yang membayarkan sejumlah uang sebagai ganti tenaga, waktu dan pikiran yang saya berikan untuk kepentingannya. Pendek kata: untuk bekerja.

Hidup memang penuh misteri.
Alih-alih menyerah pada kepungan berbagai fashion item terkini, saya justru menemukan sesuatu yang mencerahkan dan menyegarkan. Di tengah puluhan booth berukuran besar milik perusahaan-perusahaan pakaian lokal terselip sebuah stand dengan papan nama bertuliskan ‘Eyd. magz’. Di kubikel berukuran 3x3 meter itu lah saya menemukan harta karun dalam wujud buku.

‘Eyd. magz’ adalah nama yang tercetak di halaman kovernya. Sebuah majalah yang mengulas tentang buku dan kegiatan membaca beserta segala tetek bengek nya, sesuai dengan tagline yang mereka usung: books and reading. Gandrung, salut dan hormat kontan muncul setelah sedikit mengintip isinya dan berbincang dengan beberapa awaknya. Bila tidak salah ingat, ini adalah pertama kalinya saya mengenal majalah semacam ini. Ini adalah buku tentang buku.
Isinya mencakup pengetahuan ringan seputar dunia buku dan membaca, profil perpustakaan  hingga interview dengan selebritas dan review buku. Jika anda suka membaca, majalah ini pasti bagaikan cuilan surga dalam bentuk cetak. Dan Eyd. magz bisa didapatkan secara gratis. Ya, ini adalah surga yang gratis.

Sebagai seorang oportunis sejati yang gemar membaca saya tentu tidak akan menyiakan kesempatan membawa pulang majalah bagus ini. Tidak tanggung-tanggung, saya rampok enam edisi sekaligus. Ketika pameran hari itu ditutup, saya berjalan menuju pintu keluar dengan senyum yang sama lebarnya dengan para pengunjung yang menenteng kantong-kantong belanjaan. Mungkin saya lebih beruntung karena selain gratis, isi buku yang saya baca sepertinya akan lebih kekal daripada sablon yang tercetak di kaos baru mereka.

Scripta manent verba volant



No comments:

Post a Comment