Friday, January 16, 2015

Coba Dengar Budhe Oprah

Saya punya satu pertanyaan yang dari dulu selalu menggelitik benak saya: Kenapa anak muda di Solo tidak banyak yang outstanding lewat karyanya?

Sejalan dengan makin banyaknya tanggal di kalender yang saya lewati di bumi bengawan ini pertanyaan itu perlahan mulai terjawab. Salah satu yang menjadi musababnya adalah soal mentalitas.

Selama 15 tahun saya tinggal di Karanganyar, yang kira-kira bisa didefinisikan sebagai Bekasi-nya Solo, saya banyak bertemu orang-orang yang luar biasa kreatif dengan karya yang owsem. Keren binggo, kalau isitilah anak sekarang. Sayangnya tidak semua dari mereka berani untuk mempublish karyanya, bahkan untuk memperlihatkannya kepada orang lain pun enggan.

Kenapa begitu?

Tidak bisa dipungkiri keadaan sosial budaya di kota Solo sangat besar pengaruhnya, terutama untuk mereka yang sejak lahir hingga usianya hari ini tidak pernah berpindah dari kota Solo. Nilai-nilai sosial yang tertanam sejak kecil membentuk remaja-remaja Solo menjadi pribadi-pribadi yang ikut arus, enggan pamer, tidak berani tampil beda dan kurang tahan banting.
'Saya berkarya untuk kepuasan pribadi' adalah jawaban yang paling sering saya terima dari orang-orang dengan karya ngedap-ngedapi namun tidak mau mempublikasi karyanya. Entah karena memang begitu adanya atau sekedar tameng atas rasa tidak percaya diri.

Repotnya, selain kental dengan budaya ewuh pekewuh dan isinan, kehidupan sehari-hari di kota Solo juga lekat dengan budaya rasan-rasan dan yang lebih gawat, nyacati. Hal ini membuat anak-anak mudanya semakin ciut untuk berkarya. 'Nek karyaku elek mesti dirasani wong akeh', begitu pikir mereka.
Lebih menyedihkan lagi nada-nada minor itu justru sering kali datang paling awal dari lingkup terdekat: teman-teman sendiri, walaupun biasanya dalam kemasan humor tapi tetap saja cukup ampuh untuk meruntuhkan percaya diri.

'Surround yourself only with people who are going to take you higher.'
Qoute dari budhe Oprah Winfrey itu rasanya tepat sekali sebagai solusi untuk insan muda Solo yang ingin outstanding lewat karyanya. Bergaul dengan orang-orang yang terbiasa menghargai karya dan usaha orang lain, niscaya tanpa disadari kita pun akan menjadi orang yang seperti itu. Menghargai dan dihargai. Give the love and people will give the love back. Berkumpul dengan orang-orang semacam itu biasanya akan diikuti dengan pola pikir memberi dan menerima kritik secara positif yang akhirnya membuat karya kita semakin oke.

Mereka-mereka yang hari ini kita kenal lewat karyanya bisa saya pastikan adalah orang-orang yang terbiasa menerima kritik dan #wisbiyasa dicacati. Mengutip perkataan seorang kawan: 'Nyacat kuwi pekerjaan paling gampang. Wong sing nyacati dewe durung karuan iso ngelakoni koyo awake dewe, tapi nek dewe meh koyo wong kuwi -nyacati wong- kan gampang to.'


4 comments:

  1. Sependapat, genk..
    tapi aku pengen nambahin..
    Pentingnya kehadiran pengamat.. di solo, kalo tidak boleh dibilang nggak ada sama sekali, lebih banyak pelakunya drpada pengamat..
    kehadiran pengamat, lalu mempublish hasil amatannya (minimal ke blog pribadi), dapat membuat karya menjadi lebih hidup..
    onok apresiasi dan bahan diskusi ngono lah..
    kehadiran karya dalam konteks seni, kalo nggak ada pengamat, akan membunuh cakrawala yang dihadirkan pelakunya dalam karya itu tadi..
    Minimal pengamat bisa menjembatani ke khalayak mengenai apa sik yg oke dr si A ato si B dan si alfabet lainnya..
    mungkin ngono ya.. haha
    aku pating clebung.. X)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin banyak yg sungkan untuk jadi pengamat karena kesannya sok senior dan keminter. Mungkin lho ya.

      Kalo aku sih lebih suka lewat ngobrol2 santai tapi tetep tuker ide & kritik.

      Pelaku juga bisa jadi pengamat kan sebetulnya. Antar pelaku saling mengamati & mengkritisi.

      Delete
  2. Budaya pekewuh masih sangat kental mengalir dalam nadi kawula muda Solo dan sekitarnya. Banyak yg merasa pekewuh klo harus mengkritisi. Dan akhirnya support itu jadi kayak sebuah kata tanpa tindak nyata. Semua dianggap keren dan dipuji dgn dalih support your local movement. Dan brengseknya nih, para pelaku pembuat karya pun akhirnya keenakan dijilat pantatnya oleh supporter karbitan. Ketika katakanlah ada yg akhirnya mengkritik atau memberi respon negatif terhadap karya, malah dibilang enggak support. Trus disuruh bikin sendiri yg lebih bagus.

    Asuikkk, aku dadi malah surhat. Bwakakakakakakaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku yo setuju iki. Di sini rata2 semua yg dibikin sama temen dipuja dan dipuji. Padahal support itu kan bisa dalam bentuk kritik ben luwih apik.

      Repotnya banyak yg lebih suka dapet lip service daripada kritik yang sebetulnya membangun.

      Delete