Tuesday, November 25, 2014

Yang Menarik Dari Mockingjay

Saya bukan seorang penggemar film. Bioskop bukan tempat yang sering saya sambangi. Bila anda melihat antrian mengular di gedung bioskop saat pemutaran perdana sebuah film bisa dipastikan anda tidak akan menemukan saya disana.

Tapi hari itu semua berbeda. Hari itu saya seakan menyalahi kodrat dengan antusias menyambut diputarnya sebuah film di teater. Film itu adalah The Hunger Games : Mockingjay (Part 1). Antusiasme saya sebenarnya didorong oleh rasa penasaran yang membuncah. Namun rasa penasaran saya tidak sama dengan rasa penasaran banyak orang. Kebanyakan dari mereka yang menunggu film ini pasti penasaran atas kelanjutan kisah franchise terkenal ini yang terputus pada seri sebelumnya: Catching Fire. Saya tidak. Bahkan pada hari saya menonton Mockingjay saya belum menonton dua film sebelumnya. Satu-satunya petunjuk saya tentang film ini berasal dari cerita pacar saya yang mendeskripsikan film ini sebagai film yang wajib tonton, hal yang sama yang menjadi muara rasa penasaran saya akan film ini.

Pada awal film saya berusaha beradaptasi dengan jalannya cerita, mencoba mengingat nama tokoh, tempat dan plot yang saya dengar dari pacar saya sebelumnya kemudian berusaha untuk melakukan sinkronisasi dengan film yang sedang diputar di layar. Cukup berhasil, walaupun tidak sempurna. Saat tokoh Finnick muncul saya bertanya dalam hati: 'Ini Hunger Games atau Saint Seiya?'. Yang paling menyita perhatian saya justru seragam yang dipakai oleh semua orang di Distrik 13, mengingatkan saya akan Slipknot. Corey Taylor, are you there?

Jalan cerita mulai menarik dan mengaduk emosi saat Katniss Everdeen dan tim pergi ke Distrik 8 dalam rangka membuat video propaganda yang otentik nan alami. Keadaan di rumah sakit darurat yang mengenaskan, wajah penuh harapan orang-orang di rumah sakit ketika melihat Katniss, salute yang mereka lakukan hingga ketika hoverplane meratakan rumah sakit dengan tanah cukup mengusik emosi saya. Alur cerita menghanyutkan sampai pada adegan terbaik dalam film berdurasi 123 menit itu: saat Katniss menyanyikan lagu Hanging Tree atas permintaan Pollux yang direkam kemudian disebarkan ke semua distrik di Panem dan dinyanyikan oleh semua orang sebagai lagu perlawanan. Lagu yang bercerita tentang seorang pria yang mati digantung sebagai simbol perlawanan. Menggetarkan. Saya selalu merinding tiap kali menyaksikan sesuatu yang kolosal, seperti yang saya rasakan ketika adegan peledakkan bendungan di Distrik 5.

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur buat saya. Entah bagaimana dengan anda, tapi buat saya Mockingjay mengingatkan saya pada V For Vendetta. Tiap kali berbicara tentang revolusi, people power dan film anda tentunya tidak boleh mengabaikan V For Vendetta. V adalah sinonim untuk revolusi itu sendiri. Rasanya tidak adil bila harus membandingkan Katniss Everdeen dengan V. Katniss hanyalah seorang remaja dari Distrik 12 yang lihai memanah, bukan seorang super berkemampuan fisik dan mental superior dengan topeng om-om berkumis yang mampu meledakkan Gedung Parlemen London sendirian. Justru disitulah menariknya Katniss Everdeen buat saya, Katniss sangat 'biasa' dan 'manusiawi' untuk ukuran seorang jagoan. Tidak seperti V yang merencanakan revolusi, Katniss hanya menjadi simbol, yang bahkan hal itu pun tidak direncanakannya. Saya bukan fans Jennifer Lawrence, tapi jelas saya ada di dalam barisan penggemar Katniss Everdeen.

Setelah menonton Mockingjay bagian pertama yang bisa saya lakukan hanyalah menunggu bagian keduanya. Saya bisa saja mencari tahu kelanjutan kisahnya lewat sinopsis buku Mockingjay yang berseliweran di dunia maya, tapi tidak, saya ingin memelihara rasa penasaran sambil mencoba meraba-raba akhir ceritanya.
Akhir kata, untuk semua orang yang menunggu hari saat Mockingjay Part 2 dirilis dengan segenap hati saya ucapkan may the odds be ever in your favor.



No comments:

Post a Comment