Friday, August 12, 2011

Elek Yo Ben!

Pernah punya ide tapi gak berani mewujudkannya dalam bentuk nyata?
Atau sudah punya karya tapi gak berani menunjukkannya ke orang lain?
Atau punya ide brilian tapi gak berani menyampaikannya dalam suatu forum?
Pasti banyak yang menjawab 'pernah'. Termasuk saya.

Saya juga pernah terjebak dalam situasi seperti itu. Merasa ide, pendapat atau karya yang saya punya gak bagus dan akhirnya saya memilih untuk diam dan menyimpannya sendiri. Merasa kerdil.

Dan saya yakin saya gak sendiri, banyak banget orang-orang semacam ini. Sifat semacam ini memang salah satu tipikal orang Indonesia kebanyakan yang bersifat kolektif yang berarti gak suka menjadi berbeda dari orang lain dan lebih merasa aman ketika dalam kondisi yang sama dengan orang kebanyakan. Hal ini jelas menghambat proses dalam menyampaikan ide atau pamer karya, karena dengan begitu kita akan menjadi pusat perhatian dari orang-orang di sekeliling. Orang-orang di sekitar saya, temen-temen, juga kebanyakan mengalami kondisi yang sama. Banyak temen saya yang sebenernya punya ide yang brilian atau karya yang keren, tapi mereka gak berani show up, dengan alasan yang klasik nan klise: Malu.
Tapi itu jelas gak berlaku buat temen-temen saya. seniman-seniman gokil yang tergabung dalam Tugitu Unite. Tugitu Unite ini adalah komunitas independen mahasiswa-mahasiswa Deskomvis UNS. Yang paling saya kagumi dari temen-temen saya di Tugitu Unite ini adalah semangat show up yang tinggi, bahkan kadang terlihat terlalu tinggi :p

Tugitu Unite ini selalu pamer karya lewat buku indie yang mereka terbitkan sendiri yang isinya karya-karya mereka sendiri. Jangan bayangkan ini sebuah buku kompilasi artwork dengan kertas berwarna berkualitas tinggi berbanderol ratusan ribu rupiah, sama sekali tidak. Buku Tugitu Unite ini sebetulnya adalah kumpulan-fotokopian-yang-dijilid, dengan kertas buram dan tinta hitam putih. Isinya pun sangat, ehm, absurd. Artwork-artwork yang sebagian besar adalah curahan egosime dalam berkarya para artisnya, yang seringkali hanya dimengerti oleh si artis sendiri dan sering membuat bingung orang lain yang melihat, bahkan gak jarang karena orang gak ngerti akan maksudnya sebuah artwork diberi label 'jelek'. Toh Tugitu Unite bergeming dan masa bodoh dengan itu. Gak peduli dibilang gak jelas, jelek ato apapun yang orang bilang tentang mereka, mereka tetap konsisten untuk pamer karya lewat buku indienya. Inilah yang saya kagumi dari temen-temen saya di Tugitu, semangat mereka dalam berkarya dan kebanggaan yang luar biasa tinggi akan karya mereka tanpa peduli apa yang orang bilang. Tugitu punya kata-kata sakti yang akhirnya jadi semacam jargon diantara mereka untuk menjawab cibiran orang-orang soal karya mereka: 'Elek Yo Ben!'.

Semangat 'Elek Yo Ben!' inilah yang sangat saya apresiasi dari Tugitu. Walaupun, jujur saja, secara visi berkesenian saya gak berada di jalur yang sama dengan mereka, bahkan saya masih sering gak ngerti dengan ide-ide artwork garapan mereka. Tapi semangat 'Elek Yo Ben!' tadi adalah wujud nyata bagaimana Tugitu menghargai sebuah hasil karya, bagaimanapun wujudnya bahkan walaupun 'cuma' coret-coretan bolpen pilot di kertas looseleaf. Dan itulah yang bikin saya angkat topi setinggi-tingginya buat Tugitu Unite. Semangat show off dan bangga dengan karya sendiri seperti yang diusung Tugitu ini lah yang saya rasa perlu dipunyai oleh semua pekerja kreatif di Indonesia, karena kalo kita sendiri aja gak menghargai karya kita, gimana orang lain akan menghargai?

No comments:

Post a Comment